Tradisi Mamat Dalam Kebudayaan Dawan Desa Oelnaineno
Oleh :
Ristonela Kelin, S.Pd
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keragaman kebudayaannya. Dalam ilmu kebudayaan dan kemasyarakatan (antropologi dan sosiologi) konsep kebudayaan mempunyai arti yang sangat luas. Dalam ilmu-ilmu ini kebudayaan diartikan semua yang dipelajari manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Setiap generasi dalam suatu masyarakat mewariskan kepada generasi berikutnya hal-hal yang bersifat abstrak (gagasan, nilai-nilai, norma-norma) dan hal-hal atau benda-benda yang bersifat kongkrit. Apa yang dipelajari atau apa yang diwariskan tersebut disebut secara umum kebudayaan. Dengan demikian wujud kebudayaan tersebut ada yang ideal (abstrak) dan ada yang kongkrit (benda-benda budaya). Kebudayaan dipelajari, memberi makna terhadap realitas, bukan hanya cara bertingkah laku, juga berfikir. Definisi kebudayaan sangat banyak sekali. Inventarisasi yang dilakukan oleh Kroeber & Kluckhohn, dan Koentjaraningrat, telah menemukan lebih kurang 179 definisi. Kata kebudayaan yang merupakan terjemahan kata culture yang berasal dari kata Latin colere berarti “mengolah, mengerjakan”, yaitu mengolah tanah atau bertani. Dari pengertian ini ia berkembang menjadi ungkapan yang berarti segala daya dan usaha manusia untuk mengolah alam. Hanya manusialah yang dikarunia Tuhan dengan daya untuk merubah alam dengan menggunakan akalnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia budaya artinya pikiran, akal budi, hasil, adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Nusa Tenggara Timur merupakan daerah dengan berbagai macam jenis suku, budaya dan agama yang tinggal di dalamnya. Dengan keberagaman ini, menjadikan Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu daerah yang memiliki berbagai jenis bentuk kebudayaan seperti kebiasaan,tradisi, adat istiadat, kepercayaan dan ritual adat yang masih terus dijalankan hingga saat ini. Salah satu suku yang masih menjalankan kebiasaan,tradisi,kepercayaan,dan ritual adat hingga saat ini ialah dengan khas yaitu suku Dawan. Suku Dawan biasa pula dinamakan suku bangsa Atoni. Suku bangsa ini merupakan salah satu kelompok penduduk asal di Pulau Timor Propinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka berdiam terutama dalam wilayah tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Timor Tengah Utara.dari ketiga kabupaten ini memiliki tradisi yang sama yaitu tradisi dalam budaya hidup bersama ditandai dengan mamat atau makan sirih dan pinang, Setiap daerah pasti memiliki suatu cara hidup unik yang berkembang dari generasi ke generasi sebagai suatu warisan yang dimiliki dan terus dipelihara oleh masyarakat. Inilah yang dikenal dengan budaya. "Mamat" merupakan sebuah budaya Atoin Meto (Orang Timor) yang berarti makan sirih pinang. Sirih dalam bahasa Dawan berarti "Manus" dan Pinang dalam bahasa Dawan berarti "Puah". Dalam masyarakat Dawan, "Mamat" adalah salah satu budaya yang dilakukan setiap hari.

Mengenal Kebudayaan Sirih Dan Pinang
Di indonesia, tradisi makan sirih, merupakan bagian dari kebudayaan dan kehidupan masyarakat dan sudah dikenal sejak abad ke-6 masehi serta tradisi tersebut dilakukan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, seperti; di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua (NN, 2009). Tradisi makan sirih ini tidak dapat dipastikan dari mana asalnya. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa tradisi makan sirih berasal dari India. Pendapat ini lebih didasarkan pada cerita-cerita sastra dan sejarah lisan. Berdasarkan catatan perjalanan Marcopolo, yang dikenal sebagai penjelajah pada abad ke-13 mencatat bahwa masyarakat di Kepulauan Nusantara banyak yang makan sirih (Damyanti 2005). Makan sirih adalah budaya Indonesia dengan meramu daun sirih dan bahan-bahan lain sebagai ramuannya. Perlengkapan atau ramuan yang digunakan untuk makan sirih secara umum adalah terdiri dari sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Seperti halnya dibeberapa kawasan di Indonesia NTT (Nusa Tenggara Timur), Mamat atau makan sirih pinang merupakan salah satu budaya yang sangat melekat pada masyarakat suku Dawan
Dalam kehidupan keseharin masyarakat suku Dawan terlebih khusus masyarakat Oelnaineno Mamat merupakan kebiasaan dan adat istiadat yang sudah tidak dirubah dari zaman dahulu, Kebiasaan ini juga sudah menjadi tradisi yang dilakukan oleh semua lapisan masyarakat . Baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda, tanpa membedakan setatus sosial. Bahkan anak kecilpun sudah terbiasa dengan Mamat. Pada kebiasaan Mamat ini Sirih tidak hanya sekedar dikonsumsi, tapi juga dimanfaatkan sebagai sarana penunjang budaya dan tradisi yang mereka miliki. Dalam penyambutan tamu terhormat misalnya, si tamu akan disuguhi daun sirih, pinang muda dan kapur yang kesemuanya diletakkan dalam satu wadah biasa disebut Okomama. Sirih juga dikenal sebagai simbol budaya dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam adat istiadat masyarakat Dawan lainnya. Disetiap daerah mempunyai tradisi, hukum dan adat istiadat yang berbeda-beda. Perbedaan itulah yang menjadi ciri khas dari masing-masing wilayah, sekaligus yang membedakan antara satu daerah suku besar dari daerah suku lainnya (Ihromi, 2004:xxiii).
Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat istiadat. Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam hidup (Koentjaraningrat, 1994:25). Sistem nilai budaya suatu masyarakat juga merupakan sistem yang mengatur kehidupan dan perilaku anggota masyarakat, karena di dalam nilai-nilai budaya tersebut terkandung apa yang mereka anggap bernilai, berharga serta penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sabagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1994:26). Mari bersama-sama melestarikan adat istiadat dan kebiasaan kita,sekalipun dimata orang lain kebiasaan dan adat istiadat itu sangat menjijikan,tetapi itu merupakan ciri khas dari masing-masing budaya kita sendiri.
Penulis Guru Pada Sma Negeri 4 Takari
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
AKIBAT HAMIL BEBERAPA REMAJA DI TA’OEL TERPAKSA PUTUS SEKOLAH
(sebuah catatan tentang dampak pengaruh lingkungan) Oleh : Orip Atte Pembangunan nasional sangat membutuhkan sumber daya manusia berkualitas. Untuk menciptakan manusia yang berkualita
Guru Itu Obor Yang Tak Redup. Nyalakan Masa Depan
Guru dalam bahasa Jawa menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakat. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa
Pahlawan Kecerdasan
Pertempuran Surabaya 10 November 1945, yang merupakan episentrum pembuktian de facto atas kedaulatan yang baru saja diproklamirkan pada 17 Agustue 1945. kedaulatan de jure Indonesia diu
HUJAN BERKAT PADA SUKACITA NATAL 2023 DAN PERESMIAN GEDUNG BARU SMANPATRI
Perayaan Syukur Natal tahun 2023 dan Tahun baru 2024 dengan Thema "Kemuliaan bagi Allah dan damai sejahtera di bumi". Momentum peryaaan tahun ini sedikit berbeda den
PANTUN
Warna mewah adalah warna mawar Bulat kecil itu keledai Jangan malas Ketika belajar Jika memang ingin pandai Begitu luas lautan Yang harus kita salami Begitu luas wawasan
PERAN GURU PENGGERAK DALAM MENINGKATKAN SEMANGAT BELAJARAR MURID DI SMA NEGERI 4 TAKARI, KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR
Oleh : Mesra Handayani Pahnael BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Indonesia adalah salah satu negara yang menerapkan pola pendidikan dengan guru penggerak. Guru peng
Implementasi Panca Prasetya KORPRI
(Sebuah Catatan Refleksi Kinerja) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Setiap tanggal 29 November selalu diperingati sebagai hari Korps Pegawai Republik Indonesia yang disingkat KOR
Tata Kelola Pendidikan di NTT
(sebuah catatan analisis dari perpektif good governance) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Menurut Bank Dunia (2013), tata kelola pendidikan dibagi menjadi empat dimensi utama. D
Kepahlawanan dan Keteladanan
(Sebuah Catatan Refleksi Sejarah) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita. (Mohammad
Sumpah Pemuda dan Tantangan terhadap Generasi Z !
(Sebuah Catatan Refleksi) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) “Berikan aku 10 pemuda dan akan aku goncang dunia”. Ir. Soekarno. Setiap tanggal 28 Oktober Ba